Jumat, 24 Februari 2012


Semangat Si Anak Cacat
Oleh: Uswatun Hasanah


Namaku Syaipul. Aku tinggal di sebuah perumahan kompleks  desa  Sidodadi. Ayahku seorang pegawai Negeri. Bekerja di kantor  kecamatan, dan ibuku sendiri hanya sebagai ibu rumah tangga. Mencuci, memasak dan lain-lain. Saat ini umurku sembilan tahun, tetapi aku tidak dimasukkan sekolah. Dulu ayah ibuku pernah membujukku agar aku masuk sekolah, tapi aku sendiri tidak mau. Dibujuk terus setiap hari, aku malah jatuh sakit. Sejak saat itu, Ayah Ibuku tak pernah lagi menyinggung-nyinggung tentang sekolah.
            Rasanya ku sudah rela menerima keadaan ini. Dirumah kerjaku hanya membantu Ibu sejauh kemampuanku. Melipat pakaian, membersihkan meja,kursi,  menggosok, dan lain-lain. Pokoknya segala pekerjaan yang bisa ku lakukan sambil duduk. Mengapa aku bersih keras tidak mau sekolah?? Karena kakiku cacat. Cacat bawaan sejak lahir, aku malu cacatku ini menjadi tontonan banyak orang. Kemudian mereka mengejekku, menghinaku, atau kasihan padaku. Itulah hal yang ku takutkan selama ini. Karena jika itu terjadi semuanya membuatku sedih berkepanjangan.
            Menurut cerita Ibu seminggu setelah kelahiranku, aku mengalami demam. Hampir 2 minggu panasku tidak turun-turun, padahal usaha pengobatan sudah dilakukan. Pengobatan secara medis dan tradisional. Karena biaya sudah tidak ada, Ibu mengupayakan kesehatanku dengan ramuan-ramuan tradisional yang bisa dicari tanpa biaya. Usaha Ibu membuahkan hasil. Panas badanku berangsur turun. Kesehatanku semakin membaik, dan ketika Ibu membawaku ke dokter, aku sudah dinyatakan sembuh. Hari berikutnya badanku tumbuh normal, setiap ada penimbangan berat badanku terus bertambah. Akan tetapi ku tak menyangka ternyata ada kelainan pada bagian kakiku. Kakiku tidak ikut tumbuh, tapi justru menyusut dan bentuknya bengkok, lemah bagai tidak bertulang. Hingga usiaku 2 tahun aku belum bisa berjalan. Orang tuaku mulai cemas, tiap hari aku diajari berjalan, namun kakiku tak kunjung tegak. Orang pintar diundang untuk mengurut, tetapi juga tidak ada perubahan. Kemudian ada seorang teman Ayah yang memberi saran, agar aku diperiksakan ke dokter ahli bedah tulang. Kemudian kakiku dioperasi, kakiku juga tak bisa berjalan hingga sekarang umur sembilan tahun. Itulah salah satu penyebab mengapa aku tidak mau sekolah.
            Meskipun tidak sekolah, aku sudah bisa menghitung sampai seratus. Abjad A sampai Z sudah hafal dan sudah bisa membaca walaupun kurang lancar. Semua itu gurunya adalah Ibuku. Lebih-lebih setelah adikku lahir, perhatian Ibu menjadi terbagi, Ibu menjadi repot dan sangat sibuk. Aku kasihan melihatnya. Adikku perempuan lahir ke dunia setelah umurku empat tahun. Ayah Ibuku sepakat memberi nama Alfath Azahra. Kulitnya hitam tapi manis, sama dengan kulitku. Dan Ia tidak mempunyai cacat tubuh apapun. Ia bisa berlari-lari dengan lincah. Awalnya Aku merasa iri karena adikku  memiliki badan yang sempurna tidak  seperti aku. Karena sikap manjanya yang selalu menghampiri diriku, bahkan candanya membuatku tertawa. Sehingga perasaan iri tersebut hilang seketika. Hari-hari kulewati bersamanya dan ku merasakan kesejukan setiap melihat Alfath tersenyum lebar dan selalu periang. Kini umur adikku sudah berjalan enam tahun. Ketika adikku umur lima tahun, ia mau dimasukkan sekolah taman kanak-kanak. Tetapi ia tidak mau. Dipaksa, diantar, dan ditunggu oleh Ibu, tetapi juga tak mau. Kata Alfath maunya kalau bersamaku.”Alfath mau sekolah, tapi bersama Mas Pul !!. Kalau Mas Pul tidak sekolah Alfath juga tidak mau sekolah !!. Alfath ingin belajar dirumah saja bersama Mas Pul !!!”. Katanya selalu”.
            Hal itu menyebabkan Ayah dan Ibuku kewalahan. Akhirnya usia taman kanak-kanak itu berlalu begitu saja. Setelah usia adikku genap enam tahun. Sebelum pendaftaran sekolah dasar dibuka, Ayah dan Ibu sudah mulai membujuknya. Namun Alfath tetap pada pendiriannya. Ia tak mau sekolah tanpa aku bersamanya. Orang tuaku menjadi bingung, merenung mencari jalan keluar. Sebentar memandangiku sebentar kemudian memandang Alfath. Namun setelah tak menemukan jawaban, Ayah Ibuku langsung kebelakang, dan seperti biasa Ibu menuju dapur. ”Mas Pul mau sekolah bersama Alfath?? ”Tanya adikku tiba-tiba. Akupun terkejut sesaat aku tak  bisa menjawab. Ia mengulangi pertanyaannya.”Mas !! maukan sekolah bersama Alfath?? ”kupandangi wajahnya yang bening dan jujur, seolah-olah sangat mengharapkan jawabanku”. Mas tak mau sekolah dik! Adik saja yang sekolah. Mas dirumah ingin membantu Ibu. Mas harus sekolah !! supaya Mas bisa membaca dan menulis, katanya merengek.   Aku menjadi jengkel dengan ulahnya, mengapa Ia pura-pura tak mengerti dengan keadaanku.
            Kemudian aku menyuruhnya main keluar, tapi Alfath tidak mau. ”Mas harus berjanji dulu bahwa Mas mau masuk sekolah bersama Alfath. ”Alfath kamu ini bagaimana? tidak kasihan sama Mas,ya? lihat bentuk kaki Mas !! lihat nih…Aku menyuruh membuka matanya lebar-lebar agar ia lebih seksama melihat cacatku. Ia terdiam seketika. ”Mengapa diam saja ? tanyaku dengan suara keras. Alfath senang kalau Mas diejekan?”Ia menggeleng.”Nah itu baru saudara!, kalau Alfath kasihan, jangan paksa Mas masuk sekolah ya !!. Alfath sekolah sendiri saja, nanti kalau sudah pandai membaca dan menulis, Alfath ajari Mas. Tidak mau, Mas harus sekolah !!! Alfath sedih kalau Mas tidak sekolah. Dik, umur Mas sudah sembilan tahun. Malu kalau masih dikelas satu. Lagi pula anak cacat seperti Mas tentu tidak diterima  masuk sekolah.”Adikku langsung menangis tersedu-sedu setelah tidak berhasil membujukku”.
            Beberapa hari setelah percakapan itu, pendaftaran masuk sekolah dasar dibuka. Ayah membujukku agar aku ikut mengantar Alfath mendaftar di SD Negeri sebab tanpa aku bersamanya, Ia pasti tidak mau. Untuk bohong-bohongan saja Pul agar Adikmu mau!! ”kata Ayah. Peristiwa lucu itu pun terjadi, aku dikenakan baju seragam putih merah, topi, sepatu, dan juga kaos kaki. Kemudian aku dibonceng naik sepeda oleh Ayahku dan Adikku dibonceng Ibu, Karena jarak sekolah dengan rumahku tidak terlalu jauh. Adikku tampak bahagia dan ceria karena keinginannya pergi bersamaku bisa terpenuhi. Sampai disekolah kami menemui Bapak Kepala Sekolah. ”Mari jawab Bapak kepala sekolah dengan ramah. Beliau memandangi kami secara bergantian. Dan beliau pasti tidak mengira kalau kakiku cacat. Sebab dengan melihat sepintas saja, cacat kakiku memang tidak tampak. Bagaimanapun kakiku masih bebentuk. Apalagi ditutup dengan kaos kaki dan sepatu. Mana akta kelahirannya”? kata Bapak kepala sekolah. Kemudian Ayah menyerahkan akta kelahiran milik Adikku. lho…kok Cuma satu?? kakaknya sudah sekolah dimana?”. Tidak sekolah, kakinya cacat bawaan Pak. Tidak bisa berjalan kalau pergi jauh, tetapi kalau dirumah, Ia ngesot saja. ”Saya kira mau ikut mendaftar jadi murid baru. Kenapa memakai baju seragam? ”Bapak lalu menjelaskan, yang intinya untuk membohongi Adikku agar Ia mau masuk sekolah. Ternyata Adikku mengerti kalau dibohongi”tidak mau!! Alfath tidak mau sekolah tanpa Mas Pul !! kalau Mas tidak sekolah, Alfath juga tidak mau sekolah”!. Sahut Alfath dengan nada kesal dan kecewa. Iya Mas juga mau sekolah. ”bujuk Ibu. Kemudian Ibu sengaja membawa Alfath keluar untuk menenangkan adikku. Bagaimana Pak, kalau tanpa ditemani kakaknya ternyata Ia tidak mau sekolah!! ”tanya Ayahku yang bermaksud membuka pembicaraan. Ya memang repot, namun Saya sarankan sebaiknya kakanya ini didaftarkan saja!. Apakah sekolah ini bisa menerima anak cacat? ”tanya Ayahku sedikit ragu”. Pada dasarnya bisa saja karena setiap anak berhak memperoleh pendidikan. Walaupun sebenarnya ada sekolah tersendiri untuk anak cacat. Tetapi kalau tidak mau sekolah disana, biar sekolah disini saja bersama Adiknya”. Begitu kata Bapak kepala sekolah.
            Tidak lama kemudian Ayahku bertanya, ”Apa saja syaratnya pak ?” Bapak kepala sekolah menjawab begini pak setiap hari selama jam sekolah anak Bapak harus ada yang menunggu. Sebab apabila terjadi sesuatu pada anak Bapak, guru-guru tidak terlalu repot. Kalau begitu kami tidak keberatan. Sebelum dan sesudahnya kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Bapak menerima anak kami. Sama-sama Pak!. Yah Syaipul tak mau sekolah, ”kataku memprotes. ”Lho..katanya mau jadi anak pintar. ”Tidak mau, Syaipul tidak mau merepotkan banyak orang!! Pul dirumah saja membantu Ibu!”. Pul tidak kasihan sama Adik?? ”Aku diam saja aku bingung. Rasanya aku ingin menangis saja. Umurnya berapa tahun? ”Tanya bapak kepala sekolah. Sudah sembilan tahun, Pak. Kalau begitu sudah telat 3 tahun. Namun tidak apa, mudah-mudahan bisa lancar. ”tambahnya memberikan semangat”. Ayahku tidak menggubris protesku. Tetapi buru-buru mohon diri pada Bapak kepala sekolah. Sambil menggendongku keluar kami berpamitan.
            Mengapa Pul ? “tanya Ibu yang sejak tadi diluar bersama adikku. Syaipul nakal Bu, Ia tidak mau sekolah. Jawab Ayah. Mau dong kan menemani Adik, kata Ibu. Ayah dan Ibu saling berpandangan sejenak, setelah itu kami beriringan pulang. Begitu sampai dihalaman rumah, aku tidak mampu menahan tangisku lagi. Aku sangat sedih, bukan karena disuruh sekolah, melainkan karena cacat tubuhku. Kemudian ayah dan ibu membujukku dengan kasih sayang. Namun aku sulit menghentikan tangisku, yang terjadi justru air mata semakin bercucuran. Alfath ikut menangis. Ibu pun meneteskan air mata. Suasana saat itu sangat mengharukan. Sudah Pul, kalau  tidak mau menemani Adik, biar nanti ditemani Ibu. Sudah diam, ”bujuk Ibu sambil mengelus kepalaku. Dan lambat laun tangisku mulai reda. Hal itu menumbuhkan keberanian Alfath untuk mendekatiku. Ia duduk disisiku, menatapku lalu dia berkata “Mas sayang sama Ibu? Aku mengangguk, ”Mas sayang sama Ibu? Aku mengangguk, ”sayang sama Alfath? Aku tetap mengangguk, ”mas sayang semuanya kan? sekali lagi Aku mengangguk”. Kalau begitu Mas Pul harus menemani Alfath sekolah, dong!!”. ”Katanya dengan suara ringan. Tanpa kusadari aku pun mengangguk.
            Keesokan harinya Alfath sangat bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Dan Ia mengajak kembali Mas Pul agar mau menemaninya sekolah, tetapi Mas Pul kan sakit Fath. Alfath mau ditemani Ibu atau Ayah? “tanya Ibu seketika”. Adikku tidak menjawab, Ia ngambek. Ia menjatuhkan diri kelantai, berguling-guling sambil menangis. Tidak!! Alfath tidak mau sekolah kalau tidak bersama Mas Pul. Tiba-tiba Ia bangkit dan lari ke kamar. Tak lama kemudian Ia keluar sambil membawa baju merah putih untukku. Ganti baju Mas!! ayo kita sekolah!, Alfath tidak mau sendiri, katanya dengan suara terbata-bata. Diraihnya tanganku dan dipegangnya erat-erat kedadanya. Seketika aku jadi sangat terharu, Ibu yang melihat kami berdua tampaknya sangat sedih.
            Syaipul temani adikmu, nak. Biar Ia mau sekolah. ”kata Ibu dengan lembut. Syaipul kasihan sama Adik kan? agak berat aku menjawab, namun akhirnya aku mengangguk juga. Begitu aku mengangguk, Ibu langsung memeluk dan menciumku. Terima kasih Pul, kau adalah putra Ibu yang tersayang. Satu bulan kini telah berlalu, siapa yang menduga ternyata Syaipul disenangi banyak temannya disekolah karena Syaipul anak yang pintar dan terkesan rendah hati. Sehingga bertambahlah semangat Syaipul untuk meneruskan sekolah. Bukan itu saja Syaipul juga menjadi anak kesayangan guru, karena Ia jadi seorang bintang kelas Sejenak Syaipul terdiam sambil berkata dala hati. ”Betapa bahagianya aku saat ini, Tuhan,  ternyata kekurangan yang kumiliki tidak menjadikan diriku merasa terbebani. Dan aku lebih meyakini bahwa dibalik segala sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya. walaupun awalnya aku sempat mengeluh dengan keadaanku. Terima kasih Tuhan atas karunia yang telah kau berikan padaku.

                        
(Telah diterbitkan di gema langkat )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.