Jumat, 24 Februari 2012


Pelepas Rindu Buat Sang Guru
Oleh : Uswatun Hasanah
“ Jay,…Jay!!, kemarilah aku punya kabar baik untukmu, seru Fikri dengan tergesa-gesa’. “liatlah apa yang ku bawa dalam kantong ini?’ emang paan?”. Sepasang  jam tangan yang sama”. “Bagus sekali jam ini?’. Dari mana kau dapat ?’tanya Jayan”. Ini jam dari pamanku dia baru pulang dari Paris”. “ Apa Paris ?? ya kenapa kamu terkejut “Tanya Fikri”. “Paris  itu tempat impianku, aku berharap bisa kesana suatu saat nanti dan melihat langsung menara eifel dengan mata telanjangku’.”Cie,,,cie,,, yang punya impian,’ ejek Fikri ‘. “Setiap orang pasti punya impian, lagian mimpi itu kan gratis tanpa dipungut biaya” jawab Jayan membela diri”. “ wah,,,wah,,wah,,, kenapa jadi nyeritain impian nie,,,,tadi kan kita membahas jam tangan”. Ha,,,ha,,, mereka pun tertawa kompak”.
Fikri adalah sahabtaku sejak SMP sampai sekarang di bangku SMA namun tidak satu kelas. Fikri mengambil jurusan IPS dan aku mengambil jurusan IPA. Dia selalu baik padaku bahkan sering belajar bareng  membahas pelajaran yang sama  dirumahnya. Dia sengaja membawa dua pasang jam tangan yang sama. Satu untuknya dan satu lagi untukku. Padahal jika dilihat jam itu terlalu mahal buatku. Tapi Fikri terus mendesakku agar aku mau menerima pemberiannya. Akhirnya jam itu pun ku simpan dengan baik di dalam laciku. Dan sesekali ku pakai jika menghadiri acara –acara resmi.
          Namun disetiap pertemanan pasti memiliki perbedaan. Aku dan Fikri tak bisa menyatu ketika membahas masalah asmara. Itulah perbedaan kami. Kesamaan kami dari segi pelajaran. Kami sama-sama menyukai pelajaran Matematika.
Saat itu aku sangat mengidolakan Pak Shaleh sebagai guru Matematika dikelasku. Walaupun sudah tua semangatnya belum luntur untuk membagi ilmunya pada kami. Pak Shaleh telah banyak menginspirasikan murid-muridnya, termasuk Jayan.Yang merasa tertarik dengan cara Pak Shaleh mendidik.  Pernah Jayan singgah kerumah Pak Shaleh. Subhanallah semua sisi rumahnya terpajang rumus-rumus dan kata-kata bijak yang di bingkai rapi olehnya. “ Dan ada bagian sisi yang dikosongkan.” Pak kenapa sisi sdekat sudut ruangan ini kosong ?”Tanya Jayan penasaran”. ‘Iya saya sengaja mengosongkan sisi itu, karena akan lebih sempurna jika ada foto idola saya terpajang di bagian itu?’. ” Emang idola Bapak siapa?”Tanya Jayan kembali”. Saya sering koq menyebut namanya ketika saya sedang mengajar pasti kamu tau”. “Oh Albert Einsten ya pak?” Jawab Jayan menebak”. Ya, benar dugaanmu”. Tetapi uang Bapak belum ukup untuk membelinya. “Jika saya nanti sudah menjadi orang sukses saya janji akan membawa lukisan Albert Einsten terpampang di dinding ini Pak”, “Ujar Jayan berucap janji”. Ya semoga kamu jadi orang sukses nantinya” Jawab Pak Shaleh mendo’akan”. Kebanyakan orang selalu mengidolakan Artis dan Aktor papan atas sebagai idolanya, tapi tidak dengan Pak Shaleh ia malah mengidolakan orang yang sudah meninggal dunia.’Sungguh berjiwa besar sekali Pak Shaleh ini,’Batin Jayan dalam hati”.
            Beberapa tahun kemudian setelah Jayan lulus sekolah. Ia mendapat pekerjaan yang mengharuskannya tinggal di Paris tempat impiannya itu. Ia menandatangani surat kontrak selama dua tahun bekerja disana sebagai Teller di sebuah Bank”. Menara eifel menjadi tujuan utamanya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Paris. Namun demikian Jayan selalu memberi kabar pada idolanya Pak Shaleh. Sepanjang jalan menuju Paris komunikasi terus berjalan sampai diakhir pembicaraan Pak Shaleh berpesan agar dapat berbuat baik dengan siapa saja dan jangan cepat menyepelekan sesuatu hal yang kecil’. Satu tahun sudah berlalu, Jayan telah menjadi orang sukses dan semakin disibukkan dengan pekerjaannya di Bank. Komunikasinya sudah berkurang dengan sang Idola. Ditambah lagi saat itu Handphonenya terjatuh dikolam dekat rumahnya. Sehingga Handphonenya tak dapat disembuhaknlagi. Yang paling mengesalkan adalah nomor pa Shaleh yang mendadak hilang karena disimpan dalam memory telepon. Semakin panik wajah Jayan. Pasalnya sudah dua minggu ini dia belum ada komunikasi dengan Pak Shaleh.
Seminggu kemudian Jayan terpaksa melepas rindu, menanyakan kabar itu melalui surat. Saat surat itu samapai ketangan Pak Shaleh, Bapak itu  dalam keadaan sakit dan dirawat dirumah sakit. Ia sempat membaca sekilas, kemudian menyuruh anaknya untuk membalas surat tersebut, namun satu bulan kemudian barulah Jayan menerima balasan surat itu. Entah kenapa bisa sampai selama itu. “Saat itu Jayan langsung membaca dan menyimpan kembali nomor Pak Shaleh yang tertulis di surat itu. Sangat terkejut ketika membaca Kalimat terkahir di dalam surat itu. “Akhir kata saya  berterima kasih atas waktu kak Jayan untuk menyempatkan diri menulis surat pelepas rindu terhadap Ayah saya”. Tapi mohon ma’af saat ini Ayah jangan diganggu dulu karena keadaan beliau sedang dalam perawatan dokter”. Terima kasih wasalam”. Kalimat itu membuat Jayan sangat terpukul, ia meneteskan air mata duka mendengar idolanya dirawat dirumah sakit. Tubuhnya lunglai tak berdaya. 
Lusa Jayan pun memutuskan kembali ke kampung halaman untuk melihat keadaan sang idola. “Semua rapat di pending sampai tiga hari kedepan, Saat hendak membeli tiket tiba-tiba mobilnya mogok di depan toko. Jayan pun berhenti sejenak menunggu perbaikan mobil yang diperbaiki Sopirnya. Matanya mengarah toko itu dan membaca sebuah tulisan “ Dunia seni, Dunia abadi” kata-kata itu mengingatkankan kembali pada memorinya dua tahun yang lalu, bahwa ia pernah berjanji untuk memberi lukisan Albert Einsten untuk sang Idola. Tanpa berpikir panjang Jayan langsung masuk ke toko tersebut matanya jeli melihat kanan kiri mencari gambar Albert Einsten namun belum juga terlihat. Hanya ada satu ruangan lagi yang belum dilihatnya. Saat ia masuk terpampang besar lukisan Albert Einsten yang sedang duduk bersandar di atas kursi. Gagah sekali jika diliat. Akhirnya aku pulang bersama Lukisan Albert Einsten dan langsung membawanya kerumah sakit. Tapi sayang saat tiba dirumah sakit Pak Shaleh sedang di operasi . Aku hanya ditemani anaknya. Dan terus berdoa’a agar operasinya berjalan dengan lancar. Satu jam berada di ruang tunggu membuatku lelah dan tertidur  lelap. Sampai operasi selesai Pak Shaleh belum sadarkan diri. Jayan sengaja memajangkan lukisan itu di dinding rumah sakit. Dua jam kemudian barulah Pak Shaleh mulai membuka matanya dan menggerakkan tangannya. “Saat matanya terbuka Ia langsung memandang wajah sang idolanya Albert Einsten yang kelihatan gagah sekali.” Siapa yang memberikan ini?” Tanya Pak Shaleh pada anaknya.” Orang yang mengidolakan Ayah selama ini”. Jayan ?” dimana Dia ? ”Tanyanya lagi”. Dari balik pintu Jayan yang sudah sukses muncul menampakkan dirinya. Betapa senang rasanya Pak Shaleh dapt melihat Jayan . Jayan langsung  memeluk Pak Shaleh. “Saya lega rasanya, janji yang sudah lama tersimpan dua tahun silam dapat terpenuhi Pak”. “Benarkah ini idola Bapak?” Tanya Jayan menggoda”. ‘Ha,,,ha,,, Pak Shaleh tertawa mendengarnya”. Akhirnya Jayan ikut mengantar Pak Shaleh pulang dan membantu memajangkan Lukisan indah itu ke sisi dinding yang kosong. Kemudian Pak Shaleh yang sedang duduk di kursi roda melihat Jayan memasang likisan itu. Pak Shaleh pun mengacungkan Jempol kehadapan Jayan sambil tersenyum bahagia.
                                                ***

                                                                                   

1 komentar:

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.