Selasa, 06 Maret 2012

Pengakuan Rindu
Part II


Hati ini milik siapa??????
Senyum ini untuk siapa???
Tawa ini untuk apa???

Hari ini kutuliskan secercah kisah tentang perasaanku. Perasaan yang kadang menguat dan kadang melemah. Karena saat ini aku hanya bisa memendam rindu untuknya, aku tak tau sampai kapan rindu itu terus menyelinap dihatiku, menyesak dadaku, bahkan membelah ilusiku.
Dua cinta dengan rasa yang berbeda menghadangku dengan sembilu. Aku tak dapat lari, aku tak dapat menghindar, aku hanya mampu melabuhkan pada sang kuasa cinta. Hari-hariku yang penuh cinta membuat aku semakin tak bisa menjauh dari percikan api cinta yang mengenaiku dengan sengaja.
Hal terindah yang pernah kurasakan, saat aku melangkahkan kaki di sebuah gedung kaca, kepingan-kepingan rindu itu mulai menggeliti jiwa dan menusuk kalbuku kembali. Adakah gerangan disana dia merindukanku, atau malah biasa-biasa saja.
Rindu yang tak pernah berujung, membuat hatiku bicara pada dunia, dimana rinduku?, dimana dia sekarang?. Menjerit, aku mennjerit. Aku kehilangan rindu, rindu yang membuncah jiwaku. Tak da satu orang pun yang mampu membawa rindu itu kepangkuanku. Hanya hembusan angin dan desiran air yang menjadi saksi kebisuanku ini, sebab rindu yang semakin membendungku. Sempat ku teteskan air mata karena menahan rindu ITu. Dan air mata pun tak dapat mengobatinya. Rindu,,,oh rindu aku selalu merinkukanmu sayang.

Kaulah yang telah menorehkan cinta dalam hatiku, menyemaikan benih –benih asmara, dan mengisi kekosongan hatiku. Sampai hati ini menyimpan segudang rindu yang tak tau kapan akan berlabuh. Rindu karena senyum dan tawamu , rindu karena sikap dan cara bicaramu memberikan pesona yang berbeda buatku. Pribadi yang sederhana dan santun, itulah dirimu sejauh penilainku.
Kisah yang hanya beradu dalam alunan rindu, tanpa scenario yang jelas. Menguak sepenggal kisah tentang aku dan dia. Walau terkadang alunan rindu itu berubah menjadi simponi tanpa irama, garing dan hambar. Tetapi jiwa ini terus menyusuri muara- muara kecil yang dapat memberikan jawaban atas kerinduan yang tengah kurasakan saat ini.
Rasa yang menggetarkan jiwa dan sulit diungkapkan oleh kata-kata. Mungkinkah ini cinta, cinta yang tumbuh dari hati para pujangga. Cinta yang dititipkan dari sang maha Cinta untuk merampung sebuah kebahagiaan, sungguh menggoncangkan dada dan menghunjam jauh dalam jiwaku. Oh Rindu,,,, rindu yang ditanamkan olehNya membuatku tak berdaya seolah terbuai dalam samudranya. Entahlah, entah sampai kapan rasa rindu itu membubuhi hati ini . “biarlah semua indah pada waktunya”. “ tuturku dalam hati”. Aku hanya ingin menghargai perasaanku dan menunggu rentetan waktu yang akan kulalui bersama denting-denting kerinduanku.
Setelah beberapa waktu ku lewati tanpa kehadirannya, hati ini bukan semakin tenang, tetapi gundah gulana , hiruk pikuk dibuatnya. Mengapa dia sungguh menggerogoti peasaanku , mengumbar hasratku, bahkan diam-diam mencuri hatiku. Itulah yang ku rasakan saat ini. Rindu itu menjelma menjadi Embun , terkadang jatuh membasahi helaian daun jika hujan turun, namun terkadang enggan jatuh jika suasana memanas. Bisu menunggu hujan membasahi hatiku yang kelam, haus akan kerinduan.
Rindu yang membelenggu, meluluhlantakan jiwaku inikah pertanda bahwa api cinta itu mulai bereaksi dalam hatiku. Sanggupkah diri ini memasuki zona cinta, zona yang penuh dengan suka duka, gembira, senyum, bahkan marah. Semua terkombinasi menjadi satu kesatuan yang menjalankan fungsinya masing-masing. Aku percaya Allah akan mendatangkan jodoh yang terbaik buatku, menjaga dan membimbingku amar ma’ruf nahi munkar. Seperti yang pernah di riwayatkan “bahwa perempuan baik-baik untuk lelaki yang baik-baik, begitu sebaliknya” so, don’at worry about it. (ce’ille sok bahasa inggris). Semua kemungkinan bisa terjadi diluar pemikiran kita. Rindu yang dititipkan tak selamanya menghasilkan mawaddah (cinta) dan rahmah ( kasih sayang). Tergantung siapa yang mengolah dan siapa yang pandai mengeksploriatasikan rindu itu dalam kehidupannya. Aku ingin menjadi pelepas rindu untuknya.
Sebuah pengakuan rindu yang telah mendeteksi jantung hatiku . Meremas remas perasaanku. Dan merobek khayalku. Awalnya aku takut mengakuinya, untuk jujur mengatakannya , bahwa aku merindukannya. Tapi setelah ku menuliskannya, rasa rindu itu sedikit terobati. Sederetan huruf yang tersusun rapi dalam sebuah iini sudah cukup membuatku lega. Ternyata kejujuran menjawab semuanya. Ketika kita berani untuk jujur mengakui apa yang kita rasakan maka saat itu pula kita telah merasakan kehadiran orang-orang yang kita rindukan. Oleh karena itu jangan takut untuk membuat sebuah pengakuan. Seperi diri ini yang telah terjerat dalam garasi pengakuan rindu.
Cammon !! itu pengakuanku apa pengakuan mu ???, ^_^ ( the and)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.